Minggu, 07 April 2019

Siapakah Sebenarnya penguasa San Guan Da Di Itu ???


Siapakah Sebenarnya penguasa San Guan Da Di Itu ???
banyak orang hanya tau sembayang dan tancep hio sudah selesai.
dan saya hari ini ingin mengajak anda untuk membaca siapa kah San Guan Da Di !!!
lebih banyak membaca itu lebih baik lho teman - teman yok cekidot

San Guan Da Di (Hanzi : 三官大帝), dalam dialek Hokkian disebut Sam Kwan Tai Te; atau secara umum juga dikenal dengan sebutan San Jie Gong (Hanzi : 三界公) terdiri dari tiga pejabat. Pemujaan terhadap San Guan Da Di ini adalah pengaruh dari Taoisme, yaitu pemujaan terhadap ketiga penguasa alam, yakni : Alam Langit, Alam Bumi dan Alam Air. Sebutan untuk San Goan Da Di ada bermacam-macam :

Pertama, sebutan San Yuan. Sebutan ini menunjukkan waktu ketiga Kaisar tersebut turun ke dunia, yaitu :

Tanggal 15 bulan 1 Imlek = Shang Yuan (Siang Goan)
Tanggal15 bulan 7 Imlek = Zhong Yuan (Tiong Gwan)
Tanggal 15 bulan 10 Imlek = Xia Yuan (He Gwan)

Kedua, sebutan San Guan. Sebutan ini ditinjau dari pangkatnya, yaitu : Tian Guan, Di Guan, Shui Guan; yang merupakan pemberi berkah, pengampunan dosa & pelindung dari bencana & malapetaka.

Ketiga, terkenal dengan sebutan San Goan Da Di. Gelar ini (konon) diberikan oleh Maha Dewa Yuan Shi Tian Zun.

1. Tian Guan (Hanzi : 天官) : Dewa Penguasa Langit; menguasai peredaran matahari, bulan, bintang, udara, dan benda semesta lainnya. Tian Guan turun ke dunia untuk memberikan berkah kepada umat manusia setiap tanggal 15 bulan 1 Imlek; oleh karena ini beliau disebut Shang Yuan.

Gelar lengkapnya adalah Shang Yuan Ci Fu Tian Guan Yi Ping Zi Wei Da Di (Hanzi : 上元 赐福天官一品紫微大帝), yang di singkat Shang Yuan Tian Guan Da Di. Hari Se Jit (ulang tahun) Tian Guan diperingati setiap tanggal 15 bulan 1 Imlek.

2. Di Guan (Hanzi : 地官) : Dewa Penguasa Bumi; berkuasa atas terciptanya semua yang ada di dunia, termasuk manusia, binatang & tumbuhan. Di Guan turun ke dunia untuk mengatur kelahiran & kematian, mengatur hasil panen, mengatur tempat-tempat yang sunyi untuk roh-roh manusia ke akherat dan mengurus pengampunan dosa pada setiap tanggal 15 bulan 7 Imlek

Oleh karena ini beliau disebut Zhong Yuan. Gelar lengkapnya adalah Zhong Yuan She Zui Di Guan Er Ping Qing Xu Da Di (Hanzi : 中元赦罪地官二品清虚大帝), yang di singkat Zhong Yuan Di Guan Da Di. Hari Se Jit Di Guan diperingati setiap tanggal 15 bulan 7 Imlek.

3. Shui Guan (水官) : Dewa yang menguasai peredaran air, hujan, sumber di gunung, sungai, lautan dan mengatur angin yang membawa hujan, banjir & segala sesuatu yang berhubungan dengan air. Shui Guan turun ke dunia untuk mengatur peredaran air & membebaskan manusia dari berbagai musibah yang ada hubungannya dengan air pada tanggal 15 bulan 10 Imlek.

Oleh karena ini beliau disebut Xia Yuan. Gelar lengkap beliau adalah Xia Yuan Jie E Shui Guan San Ping Dong Xu Da Di (Hanzi : 下元解厄水官三品洞陰大帝), yang di singkat Xia Yuan Shui Guan Da Di. Hari Se Jit Shui Guan diperingati setiap tanggal 15 bulan 10 Imlek.

Ada lagi sebutan San Yuan Gong ((Hanzi : 三元公). Sebutan ini muncul dari anggapan bahwa Tian Guan, Di Guan & Shui Guan sesungguhnya adalah sebutan penuh penghormatan kepada 3 orang kaisar zaman dulu yang terkenal yaitu Kaisar Yao, Kaisar Shun, dan Kaisar Yu.

Kaisar Yao (2357 – 2258 SM) Shun (2225 – 2205 SM) & Yu (2205 – 2198 SM) merupakan 3 Kaisar Suci yang adil, bijaksana & sangat memperhatikan kepentingan rakyatnya, sehingga ketiga Kaisar ini (konon) menjadi panutan Kong Zi, Meng Zi, dan para ahli filsafat lainnya dalam mengajar kepada murid-muridnya, dan juga sering digunakan oleh para ahli filsafat tersebut untuk memberi teladan bagi kaisar-kaisar yang bertahta kemudian.

Oleh rakyat, Kaisar Yao, Shun & Yu dipuja sebagai Tian Guan, Ti Guan dan Shui Guan. Mereka bertiga disebut San Yuan Gong dan kelentengnya banyak tersebar di mana-mana. Mereka dipuja sebagai Dewa yang mengawasi perbuatan baik buruk manusia dan Dewa pelindung kehidupan. Rupang Sam Kwan Tai Te banyak terdapat di dalam kelenteng, baik di daratan Tiongkok maupun di Hongkong.

Lie Lo Cia (Li Ne Zha)


Lie Lo Cia atau Li Ne Zha (Hanzi : 哪吒; Pinyin : Nǎ zhā) sering disebut juga dengan Sam Thay Cu (Hanzi : 三太子; Pinyin : San Tai Zi); Ia adalah putra ketiga Li Jing yang bergelar Li Tian Wang. Gelarnya adalah Tiong Tan Goan Swee (Hanzi : 中壇元帥; Pinyin : Zhong Tan Yuan Shuai) atau Jendral Panggung Tengah. Sering pula disebut dengan Thay Cu Ya (Tai Zi Ye).

Cerita riwayat Na zha terdapat dalam novel Hong Sin (Feng Shen) :
Komandan garnisun kota Cheng Tang Guan yang bernama Lie King (Li Jing) sudah memiliki dua putera, yakni Lie Kim Cia (Li Jin Zha) dan Lie Bok Cia (Li Mu Zha). Saat itu Lie King sedang gelisah menantikan kelahiran anaknya yang ketiga, sebab walaupun usia kandungan isterinya sudah mencapai 36 bulan, sang jabang bayi belum juga keluar.

Suatu malam, isteri Lie King merasakan saat kelahiran bayinya sudah dekat dan segera memberi tahu Lie King. Saat kelahiranpun tiba, tetapi alangkah terkejutnya Lie King ketika mengetahui bahwa yang keluar dari dalam perut isterinya adalah sebongkah bola daging yang bergulir kesana-kemari.

Lie King segera meloncat mengambil pedangnya dan membelah bola daging tersebut. Dari dalamnya muncullah seorang bocah laki-laki cilik yang berpakaian (oto) merah dan tangannya memakai gelang emas. Begitu muncul, sang bocah segera berteriak memanggil Lie King sebagai ayah. Oleh Lie King, bocah itu diberi nama Ne Zha.

Suatu hari, Na Zha yang berusia 7 tahun, mengajak pelayannya bermain-main ke sungai Jiu Wan He. Ia berendam sepuas-puasnya di sungai itu dan baju oto-nya yang dipakai sejak ia lahir, dilepas dan dicucinya. Tanpa disadari Na Zha, perbuatannya itu ternyata mengundang bencana. Oto yang dimilikinya tersebut adalah benda pusaka, dan begitu dicelupkan ke dalam sungai, maka sungai tersebut berubah menjadi merah warnanya dan mendidih.

Sungai Jiu Wan He sebenarnya adalah pintu masuk kerajaan Naga Laut Timur (Dong Hai Long Wang). Melihat adanya goncangan di kerajaannya dan banyak prajuritnya yang mati, Hay Liong Ong menjadi penasaran.

Ia memerintahkan seorang panglimanya untuk menyelidiki. Panglima ini melihat seorang bocah cilik sedang mencuci oto yang menimbulkan bencana. Tanpa pikir panjang iapun segera menyerang bocah itu. Na Zha yang kaget melihat

ada makhluk aneh menyerangnya, segera melempar gelang pusakanya ke arah mahkluk tersebut. Gelang itu menghantam kepala sang panglima laut dan seketika juga langsung mati. Hay Liong Ong yang mendengar laporan matinya sang panglima, menjadi semakin murka.

Ia memerintahkan puteranya Ao Ping, untuk menangkap dan menghukum Na Zha. Diluar perhitungan, sang Pangeran Ao Ping justeru malah ikut tewas. Kemudian mayat Ao Ping yang masih berwujud naga itu, dicabuti ototnya oleh Na Zha untuk dijadikan sabuk bagi ayahnya.

Na Zha kemudian pulang dan menceritakan kejadian itu kepada ayahnya. Sang ayah bukannya menjadi senang tapi malah menjadi marah kepada Na Zha, sebab kejadian itu pasti akan berekor panjang. Benar juga, Hay Liong Ong datang menemui Lie King dan meminta pertanggung jawaban atas kematian puteranya.

Karena terdesak, Na Zha akhirnya bersedia menerima hukuman, asal orang tuanya tidak diapa-apakan. Na Zha mati bunuh diri dihadapan sang raja laut Hay Liong Ong.

Setelah mati, arwah Na Zha menemui gurunya yaitu Tai Yi Zhen Ren (太乙真人), sedangkan isteri Lie King membuatkan klenteng untuk mengenang Na Zha. Klenteng tersebut ramai dikunjungi orang, karena umumnya permohonan yang diajukan sering terkabul. Lie King yang mendengar berita ini menjadi gusar dan memerintahkan anak buahnya untuk membongkar dan menutup klenteng Na Zha.

Na Zha yang mengetahui bahwa klentengnya dibongkar oleh sang ayah, menjadi dendam kepada ayahnya dan berniat membalasnya suatu ketika nanti. Berkat bantuan gurunya, Na Zha dapat hidup kembali, dengan menggunakan badan dari kelopak teratai. Bahkan ia dibekali dengan sebuah tombak wasiat dan sepasang sepatu roda angin – api. Dengan berbekal senjata barunya, Na Zha mencari ayahnya untuk balas dendam.

Lie King yang kalah kesaktian dengan Na Zha, akhirnya memohon bantuan Wen Shu Guang Fa Tian Zun (Bun Cu Kong Hoat Thian Cun). Lie King diberi sebuah pagoda wasiat yang dapat mengurung Na Zha. Setelah tidak berdaya dan berjanji tidak akan memusuhi ayahnya lagi, maka Lie King melepas Na Zha.

Dalam Novel Hong Sin (封神榜; Fēngshénbǎng) diceritakan pula bahwa setelah kemenangan dipihak Kiang Tjoe Ge, maka Na Zha berserta ayah dan saudaranya diangkat menjadi panglima-panglima langit. Ayahnya mendapat gelar Tok Tha Thian Ong (Tuo Ta Tian Wang) dan Na Zha mendapat gelar Tiong Tan Goan Swee (Zhong Tan Yuan Shuai). Na Zha juga dianggap sebagai dewa pelindung bagi anak-anak.

Bentuk Visualisasi :
Na Zha biasanya ditampilkan dalam wujud seorang bocah remaja, rambutnya dikonde dua, memakai oto merah, satu tangan memegang tombak dan tangan lainnya memegang gelang emas, serta berdiri di atas sepasang sepatu roda angin-api.

Namun ada juga yang menampilkannya dengan mengenakan pakaian perang lengkap, atau berkepala tiga dan bertangan enam. Umumnya bila tidak dipuja sendiri, Na Zha biasanya diletakkan berdampingan Thian Shang Sheng Mu atau Bao Sheng Da Di.

Hari perayaan :
Secara umum, perayaan Na Zha ada dua yaitu :

Tanggal 9 bulan 9 Imlek, sebagai hari lahir (shejid/hari kebesaran).
Tanggal 8 bulan 4 Imlek, sebagai hari kenaikannya ke langit.

20 Ajaran Welas Asih Dewi Kwan Im


Dewi Kwan Im (Hanzi : 觀音娘娘/觀世音; Pinyin : Guānyīn niángniáng/Guānshìyīn) adalah Dewi Welas Asih yang populer dipuja masyarakat Tiongkok dan perantauannya  di dunia. Sebutan ‘Kwan Im’ sendiri berasal dari dialek Hokkian yang umum dipergunakan mayoritas etnis Tionghoa di Indonesia.

Nama lengkap dari Kwan Im menurut versi ajaran Buddhisme adalah Kwan She Im Phosat (Hanzi : 觀世音菩薩, Pinyin : Guānshìyīn púsà) yang merupakan terjemahan langsung dari nama aslinya dalam bahasa Sanskerta, Avalokitesvara Bodhisattva. Sedangkan menurut versi ajaran Taoisme menyebutnya sebagai Cihang Dashi (慈航大士) atau Cihang Zhenren (慈航真人).

Dewi Kwan Im sendiri asalnya digambarkan berwujud laki-laki di India. Penyebaran pengaruhnya mulai masuk ke daratan Tiongkok pada masa Dinasti Tang (618-907). Namun pada awal Dinasti Song (960-1279), berkisar pada abad ke 11, beberapa dari pengikut melihatnya sebagai sosok wanita yang kemudian digambarkan dalam para seniman.

Perwujudan Kwan Im sebagai sosok wanita lebih jelas pada masa Dinasti Yuan (1206-1368). Sejak masa Dinasti Ming atau sekitar abad ke 15, Dewi Kwan Im secara menyeluruh perwujudannya dikenal sebagai wanita.

Banyak cerita mengenai asal-usul tentang Dewi Kwan Im di masyarakat Tiongkok. Salah satu yang paling terkenal adalah cerita tentang Legenda Putri Miao Shan (妙善). Menurut cerita tersebut, Putri Miao Shan dilahirkan pada masa dinasti Zhou Timur ( 770-256 SM), yang merupakan anak dari Raja Miao Zhuang (妙莊) penguasa Negeri Xing Lin pada akhir masa Dinasti Zhou (abad 3 SM).

Singkatnya, berbagai cara diusahakan oleh Raja Miao Zhuang agar puterinya mau kembali ke istana dan menikah, namun Puteri Miao Shan tetap bersiteguh dengan pendiriannya. Akhirnya suatu ketika, Raja Miao Zhuang habis kesabarannya dan memerintahkan prajurit istana untuk menangkap dan menghukum mati sang puteri.


Setelah kematiannya, arwah Puteri Miao Shan mengelilingi neraka. Karena melihat penderitaan makhluk-makhluk yang ada di neraka, Puteri Miao Shan berdoa dengan tulus agar mereka berbahagia. Secara ajaib, doa yang diucapkan dengan penuh welas asih, tulus dan suci mengubah suasana neraka menjadi seperti surga.

Penguasa dunia akhirat, Yan Luo Wang (Hanzi : 阎罗王; Hokkian : Giam Lo Ong), menjadi bingung sekali. Akhirnya arwah Puteri Miao Shan diperintahkan untuk kembali ke badan kasarnya. Begitu bangkit dari kematiannya, Buddha Amitabha muncul di hadapan Puteri Miao Shan dan memberikan Buah Persik Dewa untuk dimakannya.

Dengan memakan buah persik tersebut, sang Puteri tidak lagi mengalami rasa lapar, berubah menjadi tua, dan mengalami kematian. Buddha Amitabha lalu menganjurkan agar Puteri Miao Shan berlatih mencapai kesempurnaan di gunung Pu Tuo. Puteri Miao Shan pun mengikutinya, pergi ke gunung Pu Tuo dengan diantar seekor harimau jelmaan dari Dewa Bumi.

Mengenai jalan cerita lengkapnya/selanjutnya, silahkan pembaca cari lewat mesin pencari karena artikel ini bukan berfokus pada riwayatNya.

Beberapa perwujudan dari Dewi Kwan Im yang paling terkenal adalah :

(1) Kwan Im berdiri menyeberangi samudera,
(2) Kwan Im menyeberangi samudera sambil berdiri di atas seekor Naga,
(3) Kwan Im duduk bersila dengan Tangan Seribu (sebagian divisualisasikan sambil memegang aneka macam senjata),
(4) Kwan Im berjubah putih sambil berdiri membawa botol suci & dahan Yang Liu (sebagian divisualisasikan dalam posisi duduk bersila),
(5) Kwan Im berdiri sambil menggendong Anak, dan (6) Kwan Im Berdiri di atas batu karang.

Walaupun memiliki berbagai macam bentuk rupa perwujudan, pada umumnya Dewi Kwan Im ditampilkan sebagai sosok seorang wanita cantik yang keibuan¹ (berusia 40-an tahun), dengan wajah penuh keanggunan.

Terdapat 3 hari besar untuk memperingati/menghormati Dewi Welas Asih ini, yaitu pada :

1. Tanggal 19 bulan 2 Imlek adalah hari kelahiran Nya.
2. Tanggal 19 bulan 6 Imlek adalah hari mencapai kesempurnaan.
3. Tanggal 19 bulan 9 Imlek adalah hari meninggalkan raganya.

Pada hari-hari ini, umat yang merasa pernah memperoleh pertolongan Guan Yin umumnya akan datang memenuhi kelenteng Guan Yin, membawa barang persembahan, melepaskan burung dan atau hewan lain, melakukan pantangan makan bernyawa (ciacay), dan melaksanakan perbuatan amal/kegiatan sosial lainnya, seperti berkunjung ke rumah jompo, rumah penampungan anak yatim dan cacat, dsb.

20 Ajaran Welas Asih Dewi Kwan Im :

1. Jika orang lain membuatmu susah, anggaplah itu tumpukan rejeki.
2. Mulai hari ini belajarlah menyenangkan hati orang lain.
3. Jika kamu merasa pahit dalam hidupmu dengan suatu tujuan, itulah bahagia.
4. Lari dan berlarilah untuk mengejar hari esok.
5. Setiap hari kamu sudah harus merasa puas dengan apa yang kamu miliki saat ini.

6. Setiapkali ada orang memberimu satu kebaikan, kamu harus mengembalikannya sepuluh kali lipat.
7. Nilailah kebaikan orang lain kepadamu, tetapi hapuskanlah jasa yang pernah kamu berikan pada orang lain.
8. Dalam keadaan benar kamu difitnah, dipersalahkan dan dihukum, maka kamu akan mendapatkan pahala.
9. Dalam keadaan salah kamu dipuji dan dibenarkan, itu merupakan hukuman.
10. Orang yang benar kita bela tetapi yang salah kita beri nasihat.

11. Jika perbuatan kamu benar, kamu difitnah dan dipersalahkan, tapi kamu menerimanya, maka akan datang kepadamu rezeki yang berlimpah-ruah.
12. Jangan selalu melihat / mengecam kesalahan orang lain, tetapi selalu melihat diri sendiri itulah kebenaran.
13. Orang yang baik diajak bergaul, tetapi yang jahat dikasihani.
14. Kalau wajahmu senyum hatimu senang, pasti kamu akan aku terima.
15. Dua orang saling mengakui kesalahan masing-masing, maka dua orang itu akan bersahabat sepanjang masa.

16. Saling salah menyalahkan, maka akan mengakibatkan putus hubungan.
17. Kalau kamu rela dan tulus menolong orang yang dalam keadaan susah, maka jangan sampai diketahui bahwa kamu sebagai penolongnya.
18. Jangan membicarakan sedikitpun kejelekan orang lain dibelakangnya, sebab kamu akan dinilai jelek oleh si pendengar.
19. Kalau kamu mengetahui seseorang berbuat salah, maka tegurlah langsung dengan kata-kata yang lemah lembut hingga orang itu insaf.
20. Doa dan sembah sujudmu akan aku terima, apabila kamu bisa sabar dan menuruti jalanKu.

Legenda Air Mata Putri Meng Jiang

kisah dewa & dewi

Putri Meng Jiang dikabarkan pernah hidup pada 2.200 tahun yang lalu semasa dinasti Qin. Keberadaannya telah menjadi legenda dimasyarakat hingga kini, berikut kisahnya.

Sebuah keluarga yang bermarga Meng suatu ketika menanam labu manis disepanjang pagar rumahnya. Tumbuhan tersebut tumbuh dengan pesat dan merambat melewati pagar pembatas yang bersebelahan dengan keluarga bermarga Jiang.

Sebuah labu manis besar tumbuh didekat pagar tersebut, saat keluarga Meng membelah labu itu, tiba-tiba muncul seorang gadis cilik dari dalam labu. Gadis cilik ini kemudian bernama putri Meng Jiang.

Dia tumbuh menjadi seorang gadis cantik laksana dewi kayangan, dia juga terkenal ramah dan cerdas, piawai dalam membuat puisi dan bermain musik serta mendalami nilai-nilai Konfusius. Pasangan tua Meng memperlakukannya seperti anak mereka sendiri.

Kaisar pertama dinasti Qin sangat kejam dan lalim. Demi mempertahankan keutuhan dinasti yang baru tumbuh ini, dia memerintahkan ratusan pemuda bekerja sebagai budak untuk membangun Tembok Besar disisi utara tanpa memperdulikan keselamatan jiwa mereka. Banyak pemuda yang meninggal karena kelelahan.

Tersebutlah seorang pelajar bernama Wan Xiliang yang melarikan diri dari rumahnya untuk menghindari kerja paksa tersebut, dia bersembunyi dihalaman belakang keluarga Meng. Tanpa sengaja Putri Meng Jiang menemukannya, dan memberitahu ayahnya. Ayah putri Meng adalah orang yang berhati baik, beliau memutuskan untuk menolong Wan menghindar dari pemerintah.

Selama dalam persembunyiannya dirumah Meng, keluarga Meng akhirnya mengenal dan menyadari bahwa Wan Xiliang adalah seorang pelajar yang cerdas dan baik budi, sehingga mereka menjodohkannya dengan puri Meng Jiang.

Tiga hari setelah perkawinan secara sembunyi-sembunyi mereka, sekelompok petugas pemerintah menggeledah rumah keluarga Meng dan membawa pergi Wan Xiliang. Putri Meng Jiang tahu kalau suaminya akan dijadikan budak pembangunan Tembok Besar. Setahun lamanya dia menunggu, airmata seringkali membasahi bantalnya. Namun tak ada kabar berita dari sang suami.

Akhirnya dia memutuskan untuk mencari suaminya. Namun seberapa jauhkah Tembok Besar itu? Setelah berjalan kaki berhari-hari lamanya, putri Meng Jiang bertanya kepada seorang kakek tua. Kakek itu menjawab, “Ada suatu tempat yang sangat jauh bernama propinsi You; Tembok Besar itu ada jauh disebelah utaranya.”

Selama dalam perjalanan putri Meng Jiang mengalami banyak penderitaan. Dia berjalan seharian dan bermalam dimanapun dia berhenti. Dia makan roti dingin dan minum air dari sungai yang dia jumpai. Seringkali dia kelelahan dan kedinginan, namun dia tetap melanjutkan perjalanan, tak peduli hujan dan terik mentari, tanah lapang ataupun pegunungan berbatu. Seringkali dia dibantu oleh beberapa keluarga yang ditemui selama perjalanannya.

Akhirnya putri Meng Jiang tiba di Tembok Besar pada suatu hari musim gugur yang dingin. Hatinya tersayat saat melihat para pekerja membawa muatan yang berat dibawah pengawasan penjaga. Dia lalu bertanya kepada orang-orang dimana suaminya Wan Xiliang berada, namun yang didapat hanyalah kabar suaminya telah meninggal beberapa hari setelah ditangkap. Tubuhnya dikubur dibawah Tembok Besar.

Seketika putri Meng Jiang terguncang oleh kesedihan yang teramat dalam; dia menangis dan menangis diatas Tembok Besar tersebut, airmatanya mengalir bagaikan sungai. Dia memukul-mukul Tembok Besar itu, menyesali kematian suami dan takdir dirinya.

Tangisannya membuat trenyuh para pekerja dan penjaga, sehingga menghentikan pekerjaan mereka dan ikut mencucurkan airmata bersamanya. Langit menjadi gelap dan angin dingin musim gugur menjadi lebih menyengat seperti ikut berduka.

Tiba-tiba sebuah dentuman keras memecah keheningan, sebagian Tembok Besar runtuh, memperlihatkan sisa-sisa tubuh pekerja yang terkubur dibawahnya. Melihat tulang belulang itu, putri Meng Jiang berpikir bagaimana dia dapat mengenali milik suaminya.

Kemudian dia teringat perkataan orang kuno bahwa tulang orang yang meninggal hanya dapat menyerap darah anggota keluarganya. Dia lalu menggores ujung jarinya dan membiarkan darahnya jatuh mengucuri tulang belulang itu.

Akhirnya dia menemukan tulang belulang suaminya, lagipula dia mengenali kancing baju yang pernah dia jahit untuknya. Putri Meng Jiang mengubur mayat suaminya menurut ritual layaknya sorang istri yang sangat mencintai suaminya.

Menurut legenda, bagian Tembok Besar yang runtuh akibat airmata putri Meng Jiang tidak pernah dibangun lagi (jika dibangun kembali akan segera runtuh).

Kisah putri Meng Jiang menjadikan dirinya sebagai sosok yang sangat dihormati oleh masyarakat Tiongkok dari generasi ke generasi. Kuil persembahan putri Meng Jiang berdiri pertama kali pada waktu dinasti Song, kira-kira 1000 tahun yang lalu, terus terpelihara dan disembah dari permulaan berdirinya Tembok Besar hingga hari ini didaerah Timur.

Kisah Empat Naga : Asal Usul Sungai-Sungai Di Tiongkok

kisah dewa & dewi

Dijaman dulu, tidak ada sungai dan danau di bumi, hanya ada laut dibagian timur. Disana tinggal empat ekor naga: Naga Panjang, Naga Kuning, Naga Nitam, dan Naga Mutiara. Suatu hari, keempat naga terbang dari laut ke langit, mereka membumbung dan menyelam, bermain sembunyi-sembunyian di awan.

“Hai... Lihat Disana!” Naga Mutiara tiba-tiba berteriak.
“Ada apa?” tanya yang lain, sambil melihat kebawah kearah yang ditunjuk Naga Mutiara.

Di bumi mereka melihat banyak orang mempersembahkan buah dan kue, dan membakar kayu. "Mereka Berdoa!" Seorang wanita tua berambut putih, sambil berlutut di tanah dengan anak yang kurus di punggungnya, mengucapkan doa

 “Kirimkan kami hujan, oh dewa-dewi di surga, untuk memberikan anak-anak kami makan.”

Sudah sangat lama tidak turun hujan. Sawah-sawah mengering, rumput-rumput menjadi coklat kering dan tanah meretak dibawah panas matahari.

”Kasihan sekali mereka!” kata Naga Kuning. “Mereka akan mati jika tidak segera turun hujan.”

Naga Panjang mengangguk. Kemudian ia mengajak teman-temannya, “Mari pergi dan meminta Kaisar Permata untuk menurunkan hujan”

Setelah berkata demikian, ia terbang masuk ke awan, yang lainnya mengikutinya terbang menuju Istana Langit. Sebagai pemimpin bumi dan langit Kaisar Permata, sangatlah kuat. Ia tidak senang melihat naga- naga itu menyeruduk masuk ke istananya. “Kenapa kalian kemari, dan tidak tinggal di laut dan berlaku sopan?”

Naga panjang maju kedepan dan berkata, “Tumbuh-tumbuhan di bumi meranggas dan mati, yang mulia. Saya memohon padamu untuk menurunkan hujan segera!”

“Baiklah. Kalian boleh pergi, Saya akan menurunkan hujan besok.” Kaisar Permata pura-pura setuju sambil mendengarkan nyanyian bidadari.

“Terima kasih, yang mulia!” Keempat naga pergi dengan gembira.

Tetapi sepuluh hari berlalu dan tidak setetespun hujan turun. Rakyat makin menderita, ada yang makan kulit kayu, ada yang makan akar rumput, ada beberapa yang makan tanah lempung setelah mereka kehabisan kulit kayu dan akar rumput. Melihat semua ini, keempat naga merasa kasihan, mereka tau Kaisar Permata hanya perduli kesenangan, dan tidak pernah memperhatikan manusia. Mereka hanya dapat berusaha sendiri untuk mengurangi penderitaan rakyat. Tetapi bagaimana caranya?

Melihat laut yang luas, Naga Panjang berkata “Hai.. Aku dapat ide.”
“Apa itu, ayo cepat katakan” Kata yang lainnya.
“Lihat, bukankah ada banyak air di laut dimana kita tinggal? Kita dapat mengeduknya dan menyemburkannya ke langit. Air akan turun seperti hujan. rakyat dan sawah mereka akan selamat!”

“Ide cemerlang!” Tiga naga lainnya bertepuk tangan.
“Tapi,” Kata naga panjang setelah sedikit berpikir, “Kaisar Permata akan marah jika ia melihat hal ini.”
“Saya akan melakukan apa saja untuk menolong rakyat.” Kata naga kuning segera.
“Ayo kita mulai, Kita tidak akan menyesalkan perbutan kita.” Naga hitam dan Naga Mutiara berkata penuh semangat.

Mereka menyelam kelaut, mengeduk air ke mulut merek, terbang ke angkasa, dan menyemburkan air ke bumi. Keempat naga terbang dan menyelam mengeduk dan menyemburkan air terus-menerus, membuat langit gelap. Setalah beberapa lama, air laut menjadi hujan yang turun ke bumi.

“Hujan! Hujan!”
“Sawah-sawah akan selamat!”

Rakyat berteriak dan melompat-lompat gembira. Di bumi batang padi kembali tumbuh dan kuncupnya meninggi. Batang gandum meninggi.

Dewa laut melaporkan kejadian ini ke Kaisar Permata.

“Berani-beraninya keempat naga itu membuat hujan tanpa ijinku!” Kaisar Permata berang, dan memerintahkan jendral-jendral langit dan tentaranya menangkap keempat naga. Dengan jumlah yang kalah jauh, keempat naga tidak dapat bertahan, dan mereka segera ditangkap, dan dibawa kembali ke pengadilan langit.

“Pergi dan timpa mereka dengan dengan gunung, sehingga mereka tidak dapat lolos!” Perintah Kaisar Permata terhadap dewa gunung.

Dewa gunung menggunakan tenaga magisnya untuk membuat empat gunung terbang, berputar dilangit, mengejar dan menimpa keempat naga itu.

Walaupun dipenjara, keempat naga tidak menyesali perbuatan mereka. Untuk membantu rakyat selamanya, mereka berubah menjadi emapt sungai, yang mengalir dari atas gunung, ke bukit, melewati tanah dari barat ke timur dan akhirnya menuju laut. Terbentuklah empat sungai besar Cina – Sungai Heilongjian (Naga Hitam) di Utara Cina, sungai Huanghe (Sungai kuning) di  tengah Cina. Sungai Changjian (Yangtze, atau sungai panjang) dibagian selatan, dan sungai Zhujiang (Permata) jauh di bagian selatan.

------------------------
Inilah dia cerita negeri Tiongkok, cerita indah negeri leluhur kita Marilah kita membacanya, menyanyikannya dan kembali menceritakannya Catatlah, Simpanlah, untuk anak cucu kita. Legenda naga, sejarah tionghua, adat-istiadat dan kebudayaannya Indah,  bermoral tinggi, ayo berbangga dengannya.